Translate

English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google
yoyo yang baca blog saya!ini hanya sebuah blog geje yang postingannya ada yang geje dan ada yang enggak(masak mau geje semua sih?).selamat membaca blog saya!jangan lupa comment ya ;)

Sabtu, 09 Oktober 2010

Whoever You Are (part 1)

yaaa... ini pertama kalinya aku ngebikin fanfic. dan bahasa koreaku masih ancur. haha, yang penting bikin dulu deh. kalau ada yang salah tolong diralat ya. bagi-bagi ilmu gitu deh, haha. oke ini ceritanya ^^



Aku melangkah memasuki mobil. Mobil yang kunaiki ini menuju sebuah rumah besar di Seoul. Setelah sampai akupun turun dan berjalan memasuki halaman rumah itu bersama orang yang mengantarku, Sang Rim-ssi. Aku memperhatikan sekeliling. Rumah ini terlihat sederhana tetapi tetap elit dan elegan. Kata Sang Rim-ssi pemilik rumah ini adalah anak-anak band yang sedang naik daun di Korea Selatan ini. Sejujurnya aku tidak tahu grup band apa ini. Maklum, aku tidak mengenal band dari luar negeriku. Band dari dalam negeri pun aku hanya tahu sedikit. Sampainya di depan pintu Sang Rim-ssi menekan bel. Tidak lama kemudian pintu pun terbuka. Seorang namja keluar dari dalam rumah.

“ Annyeong haseo,” kata Sang Rim-ssi.

“Annyeong haseo, Sang Rim-ssi,” jawab namja itu.

“ Ini dia yeoja yang akan membantumu dan yang lain,” Sang Rim-ssi menjelaskan.

“ Uwaa... cantiknya,” dia memujiku sambil tertawa kecil.

“ Kamsahamnida,” jawabku dengan agak malu.

“Aiya.. cheonmaneyo. Chonun Hong Ki imnida. Neon?”

“ Chonun Siti imnida, “ jawabku dengan suara tidak terlalu keras. Di negaraku Siti adalah nama yang jelek dan ndeso. Cocok untuk nama seorang pembantu. Aku tidak tahu apakah di sini namaku akan terkesan memalukan juga atau tidak.

“ Namamu Siti? Wow, nama yang unik. Belum pernah aku mendengar nama seperti itu, “ kali ini namaku yang dia puji. Aku tidak percaya dia suka namaku.

“ Kamsahamnida”

“ Ne Cheonmaneyo,”

Hening sesaat~

“ Umm, baiklah. Aku akan pulang, “ kata Sang Rim-ssi.

“ Oke, kamsahamnida Sang Rim-ssi,” kata Hong Ki.

“Kamsahamnida, ” ucapku juga.

“ Cheonmaneyo semuanya,” jawab Sang Rim-ssi lalu berbalik dan pergi meninggalkanku serta Hong Ki.

“ Oke, ayo masuk Siti. Pertama ayo ke kamarmu dulu,” Hong Ki mengajakku masuk. Kami berjalan menuju sebuah kamar. Sesampai di depan pintu Hong Ki membuka pintunya. Kami masuk dan aku melihat sekeliling. Kamar ini bagus dan luas, bahkan lengkap. Aku tidak percaya seorang pembantu sepertiku mendapatkan kamar sebagus ini.

“ Wow,” hanya itu yang bisa ku katakan.

“ Wae?” tanya Hong Ki.

“ Kamar ini bagus sekali. Benarkah ini kamar untukku?” aku masih tidak percaya.

“ Ne. Kamar ini punyamu. Aku dan yang lain tidak akan menganggapmu sebagai pembantu, Siti,” katanya.

“ Wae?” tanyaku heran mengapa mereka begitu baik padaku.

“ Karena kamu seorang yeoja dan kamu akan menjadi teman kami juga di sini. Kami tidak akan membiarkan seorang yeoja yang cantik tinggal di kamar yang jelek, “ jelasnya sambil tersenyum jail.

“ Uwa?” aku benar-benar tidak percaya.

“ Ah sudahlah. Sekarang tasmu taruh sini dulu,” Hong Ki mengambil tas yang ada di tanganku dan menaruhnya di samping tempat tidur, “ nah, sekarang ayo ku perkenalkan kamu dengan yang lain,” dia menarikku menuju sebuah ruangan. Dari dalam terdengar suara orang bercanda dan tertawa. Hong Ki membuka pintu dan kamipun memasuki ruangan itu. Di sana ada 4 namja beserta peralatan band. Mereka menempatkan diri pada posisi masing-masing. 2 namja memegang gitar, seorang namja duduk di belakang drum, dan seorang namja yang memegang alat seperti gitar tetapi hanya ada 4 senar yang besar besar. Mungkin itu yang dinamakan bass.

“ Annyeong!” sapa Hong Ki bersemangat hingga semua menatap ke arahku dan Hong Ki.

“ Annyeong hyung! Wah wah, siapa ini?” kata namja yang memegang bass.

“ Ini yeoja yang akan bantu-bantu kita,” jelas Hong Ki.

“ Annyeong haseo,” aku menyapa mereka.

“ Hei, kenalkan diri kalian,” suruh Hong Ki kepada yang lain.

“ Ne Hong Ki hyung. Chonun Jae Jin imnida,” kata pemegang bass tadi.

“ Chonun Seung Hyun imnida,” kata gitarisnya.

“ Chonun Min Hwan imnida,” kata drummer band ini.

“ Chonun Jong Hoon imnida,” kata gitaris yang satu lagi.

Mereka semua memperkenalkan diri dengan tersenyum manis, manis sekali. Mereka keren, tetapi juga cantik. Mungkin namja Korea memang cantik. Tetapi tetap saja mereka terlihat ganteng.

“Chonun Siti imnida,” ucapku sambil tersenyum juga.

“Siti? Nama yang lucu dan cantik, seperti orangnya,” kata Jong Hoon sambil tertawa jail.

“Tuh kan bener kataku,” kata Hong Ki padaku.

“ Aniyo~. Hajiman, kamsahamnida Jong Hoon-ssi geurigo Hong Ki-ssi,” aku menjawab dengan malu-malu. Mungkin kali ini wajahku memerah.

“ Jangan panggil pakai –ssi. Umurmu berapa sih?” kata Hong Ki.

“19,” jawabku.

“ Kalau gitu panggil aku dan Jong Hoon pakai oppa karena kami 20 tahun, panggil dia Jae Jin karena seumuran denganmu. Dan kau bisa memanggil yang lain hanya dengan nama karena mereka masih 17 tahun, “ Hong Ki menjelaskan.

“Hyung! Aku kan berumur 20 tahun besok Desember!” protes Jae Jin.

“Ne, hyung! Aku dan Seung Hyun juga akan berumur 18 tahun beberapa bulan lagi!” protes Min Hwan juga.

“ Tapi masih beberapa bulan lagi kan? Hahaha,” kata Hong Ki sambil tertawa licik.

“ Dasar hyung!!!” teriak Jae Jin dan Min Hwan bersamaan.

“ Hahaha. Kalian terima aja dong. Kayak Seung Hyun tu lho nggak protes,”

“ Seung Hyun! Ayo ikut protes!” ajak Jae Jin.

“ Oke oke. HONG KI HYUUUUNG! AKU PROTES!! Udah kan?” kata Seung Hyun.

“Ah protes kok kayak gitu sih,dasar Seung Hyun,” kata Min Hwan.

Aku hanya tersenyum kecil melihat tingkah mereka. Mereka benar- benar kocak. Mereka juga baik. Bahkan tadi saat Hong Ki oppa (wah, aku harus membiasakan diri memanggilnya oppa) memperkenalkanku kepada yang lain, dia tidak seperti memperkenalkan seorang pembantu, tetapi seorang teman yang akan numpang di rumah mereka.

“ Hei sudah, jangan bikin malu di depan yeoja yang cantik ini,” tegur Jong Hoon sambil masih memujiku. Lalu Hong Ki, Jae Jin, dan Min Hwan serempak menoleh ke arah Jong Hoon.

“ Gurae leader-shii,” kata mereka serempak.

“ Leader-shii?” aku tidak mengerti maksudnya. Aku tidak begitu mengerti bahasa inggris. Aku tahu bahasa korea hanya karena aku akan menjadi TKW di korea.

“Ne, dia pemimpin band kami, FT Island. Dia hyung yang baik. Tidak seperti Hong Ki hyung, ” jelas Min Hwan sambil menatapku lalu menjulurkan lidah ke arah Hongki.

“Mwoh?Min Hwan awas kau ya!” kata Hong Ki pura-pura marah.

“Week, week,” Min Hwan masih menjulurkan lidah ke Hong Ki oppa.

“ Aiyaya, sudahlah. Hentikan Hong Ki, Min Hwan,” tegur Jong Hoon
lagi. Merekapun berhenti bermain-main.

“ Wow,” aku mengatakannya dengan pelan hingga yang lain tidak mendengar. Biasanya leader sebuah band adalah vocalisnya. Tapi Jong Hoon adalah gitaris, dan itu tidak mempengaruhi jiwa leadernya. Sepertinya dia leader yang baik.

“ Oh iya, kapan kamu ulang tahun?” tanya Jae Jin.

“ Eh? Na? Bulan ini kok. Hehe,” jawabku masih agak malu.

“ Waa! Ayo besok kita rayain bareng! Ayo ayo!” kata Min Hwan sambil bergaya seperti anak kecil.

“Ehehe,” aku hanya tertawa kecil.

“ Tanggal berapa?” tanya Jong Hoon.

“ Tanggal 17. Tepat pada saat ulang tahun negaraku,”

“ Wah hebat! Kamu dari negara mana sih?” tanya Seung Hyun.

“ Indonesia,” jawabku.

“ Indonesia? Bukankah kita pernah ke sana?” tanya Jong Hoon pada yang lain.

“ Eh? Kapan? Tahun ini?” Jae Jin kembali bertanya pada Jong Hoon.

“ Ne. Kalo tidak salah bulan Januari kok,” jawabnya.

“Ah? Benarkah?” sahut Hong Ki.

Hening sesaat~

“AHA!” teriak Min Hwan sambil berdiri hingga membuat kursi yang didudukinya jatuh dan semua kaget, termasuk aku.

“ MIN HWAAAN! Jangan bikin kaget gitu dong!” protes Jae Jin.

“ Mian hyung, hehe. Habis aku inget waktu ke Indonesia sih,” katanya sambil membenarkan kursi dan kembali duduk.

“ Benarkah?” tanya Hong Ki.

“ Ne Hong Ki hyung. Kalo nggak salah di Jakarta,” kata Min Hwan.

“ Ah iya, Jakarta ibukota Indonesia,” jelasku pada mereka.

“ Oh iya aku ingat! Tapi kita nggak manggung di sana,” kata Jong Hoon.

“ Hmm, gurae..” Jae Jin menimpali.

“ Apa kamu tinggal di Jakarta, Siti?” tanya Jong Hoon.

“ Ne. Hajiman, aku bukan asli dari Jakarta, ‘ jawabku.

“ Terus kamu aslinya dari mana?” tanya Seung Hyun.

“ Dari Yogyakarta. Mungkin kalian nggak begitu kenal sama tempat ini,”

“ Ooo. Aku emang nggak tau, haha. Dimana sih itu?” tanya Seung Hyun lagi.

“ Masih sama-sama di Jawa kayak Jakarta. Cuman Yogyakarta itu jauh dari Jakarta. Keadaannya juga beda, lebih asri di Yogya. Yogya nggak seramai dan semacet Jakarta. Lebih banyak pohon dan lebih sedikit kendaraan. Apa lagi di desaku. Di Yogya banyak tempat pariwisata yang bagus lagi. Kayak candi, pantai, dll.” jelasku.

“ Uwaa.. hyung kapan-kapan ke sana yuk, haha,” usul Min Hwan.

“ Iya, bikin video clip di sana,” kata Hong Ki bersemangat.

“ Terus kenapa kamu ke Jakarta yang lebih ramai?” tanya Jong Hoon.

“ Karena aku mendaftar untuk jadi TKW. Makanya aku bisa sampai sini,” jawabku.

“TKW? Apa itu?” tanya Jae Jin.

“ Gurae, TKW. Pembantu tapi yeoja. Yeoja yang jadi pembantu di luar negeri. Kayak aku.”

“ Oo..” kata Jae Jin.

“ Hei, apakah kalian mau besok ku buatkan masakan indonesia?” tiba-tiba ide itu muncul di otakku.

“ Mau mau mau! Apakah makanan di sana enak? Kamu mau masak apa? Apakah ada ayamnya? Aku mau ayam! Di kulkas ada ayam!” tanya Min Hwan sambil kegirangan hingga sekali lagi dia menjatuhkan kursinya. Kami semua pun tertawa.

“ Dasar Min Hwan! Pikiranmu makanan dan ayam terus,” kata Jong Hoon sambil tertawa.

“ Ahaha. Makanan di sana enak kok. Sebenarnya aku akan memasakkan sayur asem untuk kalian. Tetapi karena Min Hwan ingin ayam, aku akan buatkan gudeg dan tempe garit untuk kalian,” kataku.

“ Uwaa... enak enak enak. Aku belum pernah dengar sayur asem. Mungkin kamu bisa buatkan itu untuk besok. Apakah gudeg itu seperti semur ayam?” kata Min Hwan lagi.

“ Tentu kamu belum pernah dengar sayur asem. Itu kan khas Indonesia. Gudeg itu bukan semur ayam. Gudeg adalah sayur yang bahan utamanya gori, tapi bisa di tambahkan ayam. Kalau sayur asem nggak bisa. Cuma bisa di tambahin ayam goreng, kan nggak seru tuh,” jelasku.

“ Ayayay! Asyik asyik! Siti baik, Siti baik! Saranghae Siti-a!” Min Hwan makin kegirangan.

“ Heh?” hanya itu yang bisa kuucapkan karena kaget Min Hwan bilang ‘saranghae’ padaku.

“ Hiah dasar Min Hwan. Kalau ada maunya baru muji-muji sampai bilang saranghae,” kata Jae Jin.

“ Biarin week. Siti emang baik kok,nggak kayak Jae Jin hyung!” kata Min Hwan ke Jae Jin sambil menjulurkan lidah.

“ Terserah deh,” kata Jae Jin lagi.

“ Aih sudahlah,” lerai Jong Hoon.

Hening lagi~

Jong Hoon pun melihat ke arah jam dinding. Ternyata sekarang sudah pukul 9 malam. Gara-gara keasyikkan ngobrol jadi lupa waktu. Semua pun kembali ke kamar kecuali Jong Hoon. Dia mengantarku ke kamar. Maklum, aku masih asing sama rumah ini. Kami berjalan dalam keheningan. Hingga kami sampai di depan pintu kamarku.

“ Kamsahamnida Jong Hoon-ssi,” kataku membuka pembicaraan.

“ Jong Hoon oppa, Siti,” ralat Jong hoon.

“ Ah, ne. Kamsahamnida Jong Hoon oppa,” aku mengatakannya sambil agak malu karena belum terbiasa memanggilnya oppa.

“ Cheonmaneyo, Siti. Oppa gibun johajyeosseo, haha. Annyeonghi jumushipsiyo,” kata Jong Hoon.
“ Haha. Annyeonghi jumushipsiyo,” jawabku.

Jong Hoon pun berbalik dan meninggalkanku untuk kembali ke kamarnya. Aku pun juga masuk ke kamar dan menata barang-barangku. Aku membawa beberapa makanan dan bahan makanan dari Indonesia. Mungkin besok aku akan memasakkannya untuk mereka. Setelah selesai akupun segera mandi dan berusaha tidur.

Untuk beberapa saat aku masih belum bisa tidur. Aku masih percaya tidak percaya bisa ada disini. Aku yang hanyalah seorang gadis desa lulusan SMA bisa serumah dengan artis Korea yang mungkin di Indonesia juga sedang naik daun. Mungkin aku hanya pembantu mereka. Tapi sikap baik mereka membuatku merasa seperti bukan pembantu, tetapi tamu. Tetapi tetap saja aku hanya lulusan SMA. Yah, aku memang bisa bahasa korea, tapi itu karena aku akan menjadi TKW di Korea Selatan ini. Mungkin kali ini aku memang beruntung. Yeoja yang sedang beruntung.



Bersambung...